Ilmu Iman dan Amal. Masyarakat Islam dahulu sangat menjunjung tinggi budaya ilmu, baik penguasa maupun rakyatnya. Jacques C. Reister mengatakan “selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi”. Pada abad ke-10, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan umum.
Thelatest Tweets from santri cinta Allah (@ilmu_santri)
Menginjakusia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha’ untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari’at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.
Duafan ilmu ini merupakan di antara ilmu pendukung yang diwajibkan di dayah-dayah agar mampu membaca kitab- kitab kuning. Dengan lancarnya memahami kedua ilmu ini, kitab-kitab yang tak berbaris pun akan mudah dipahami. Ada juga santri-santri yang fokus belajar metode Al-Miftah, metode baru yang digunakan di dayah kami.
santridan media sosial Sebagai agen sosial yang memang harus berkecimpung di tengah masyarakat, baik dalam skala mikro maupun makro, baik struktural maupun kultural, tentu santri harus bisa tanggap terhadap perubahan yang bergulir.
BandaAceh, Di era globalisasi, pendidikan agama Islam sangatlah bermanfaat agar anak-anak muslim tidak mudah terbujuk dengan hal-hal yang negatif. Dengan pondasi Islam yang kuat pula, mereka tidak akan terperangkap dalam kemegahan duniawi terutama yang menjerumuskan kepada sesuatu yang tidak bermanfaat dan dibenci oleh Allah
Bukuini merupakan pelajaran dalam ilmu Fiqih merupakan mazhab Imam Syafi’i RA. Pelajarannya saya pilihkan agar dapat digunakan oleh pelajar sekolah atau pesantren islam di Indonesia. Buku ini saya bagi dalam empat juz, dan dalam penyusunannya saya berpedoman kepada kemampuan yang sesuai dengan alam negara Indonesia, juga mengingat apa yang
Janu. 0 5 1 minute read. Bagi seorang Muslim, mencari ilmu pengetahuan adalah sebuah kewajiban. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Allah menciptakan manusia dengan akalnya agar manusia dapat berpikir dan mencari ilmu pengetahuan. Bahkan bagi seorang Muslim, mencari ilmu pengetahuan adalah sebuah kewajiban dan Allah akan
TJ0uR. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Santri menurut KBBI berarti 1 orang yg mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh orang yg saleh; 3Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya. Sumber Menurut Gus Mus "Santri adalah murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat yang tidak goyah imannya oleh pergaulan, kepentingan, dan adanya perbedaan," Sumber Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa santri adalah sebutan bagi seorang pelajar yang mengikuti pendidikan agama Islam di ponpes dan ditujukan bagi pelajar laki-laki. Sedangkan santriwati itu adalah kata yang ditujukan terhadap pelajar perempuan yang berada di ponpes. Biasanya para santri/santriwati menetap atau tinggal di ponpes tersebut hingga pendidikan mereka selesai. Kata santri memiliki dua makna, pertama orang yang mempelajari ilmu agama islam. Kedua orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh. Santriwan/wati hidup dan tinggal di lingkungan yang sama, dari berbagai macam latar belakang yang berbeda tetapi diperlakukan sama. Tinggal dan bersosialisasi dalam satu lingkungan diharapkan mereka dapat menjadi pribadi yang berakhlak mulia untuk kedepannya. Santriwan/wati juga mempelajari beragam pelajaran seperti siswa pada umumnya, yang membedakan adalah pada pelajaran keislaman seperti ilmu agama, fiqih dan lainnya. Para santri/wati mempelajari bidang-bidang ilmu tersebut lebih dalam dan jam pelajarannya juga lebih banyak dari siswa pada satu ciri khas santriwan/wati adalah berkepribadian mandiri. Karakter tersebut di tempah sejak mereka tiba di ponpes. Hidup mandiri tersebut di latih agar kedepannya para santri dapat melewati hidup dengan tidak bergantung pada orang lain dan dapat berdikari atau berdiri di atas kaki itu, santri juga di ajarkan arti kebersamaan di ponpes, misalnya saling berbagi makanan, tidur disatu tempat tidur yang sama, saling berbaris mengantri di jam-jam makan. Kebiasaan yang demikian nantinya diharapkan dapat membentuk kepribadian saling bahu-membahu terhadap orang juga belajar untuk hidup sederhana seperti makan dengan menu seadanya, berpakaian secukupnya, dan juga tidak membuang uang untuk hal-hal yang tidak berguna. Mental hidup sederhana juga dapat bermanfaat untuk para santriwan/wati agar bisa bertahan setelah selesai dari ponpes. Melimpahnya ilmu agama yang dipelajari santriwan/wati membuat mereka menjadi pribadi yang lebih religius. Peraturan bahkan metode pembelajaran di atur agar santri selalu ingat terhadap Rab nya atau santriwan/wati mempelajari pendidikan di ponpes untuk memperdalam ilmu agama agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Ketika kembali kelingkungan asalnya mereka di harapkan menjadi figur-figur yang memberikan warna keislaman yang rahmatan lil pendapat orang tentang santriwan/wati saat menjadi seorang santri "kita diajarkan banyak hal, salah satunya belajar bersyukur. Ditengah keadaan yang seadanya, baik dari segi makan, pakaian dan hal sederhana lain, seorang santri tetap menikmati hari-hari nya dengan bahagia, tanpa mengeluhkan keadaan yang bisa di bilang jauh dari kata cukup" tutur seorang yang dulunya pernah menjadi santri. 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya
Dalam dunia Pesantren, khususnya Pesantren Salaf bacaTradisional, keilmuan seseorang sudah bisa dikatakan mapan ketika dia sudah mempelajari 12 bidang ilmu. Memang satu pesantren dengan yang lainnya kadang berbeda dalam mendefinisikan 12 tersebut. Tapi, penulis mendapatkan satu sumber 12 fan ilmu itu yang dikemas dalam Bahar Basith penjelasan tentang jenis Bahar nanti menyusul D. Penulis sendiri mendapatkan Nadhm tersebut ketika mondok di Pondok Pesantren Al Hijrah Assalafiyah di Purwakarta. Nadhm tersebut adalah Shorfun Bayanun Ma’ani Nahwu Qofiyatun Syi’run Arudlun Isytiqoqun Khottun Insyaau Munadhoroh wa tsani asyruha Lughot tilkal ulumu laha adabul asmaau 1. Shorfun = Shorof Ilmu ini membahas tentang morfologi suatu kalimah kata dalam bahasa arab. Perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain untuk menghasilkan ma’na yang dimaksud. Contoh dari Fi’il kata kerja Madli ke bentuk Fi’il Mudlori’, Mashdar kata benda, Isim Fa’il pelaku, Isim Maf’ul kata benda objek, dan lainnya. Kitab Panduan yang digunakan biasanya Matan Bina, Kailany, Fathul Khobirul Latif, Nadhm Maqshud, dan Lamiyatul Af’al. 2. Bayanun = Bayan Lebih sukar dari ilmu Shorof, ilmu ini membahas tentang majas dan perumpaman dalam bahasa arab. Seperti halnya ilmu Shorof, ilmu ini juga hanya membahas satu kalimah kata tanpa melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya dalam penggunaan lafadh Ashobi’ahum dalam ayatYaj’aluun Ashobi’ahum fi adzaanihim dalam surat Al Baqoroh. Kata ashobi’ahum tersebut tidak dima’nai sebagai “jari-jari mereka”, tapi dima’nai sebagai “ujung jari-jari mereka”. Karena gak mungkin toh memasukkan jari ke telinga, yang mungkin memasukkan ujungnya saja. Dalam ayat tersebut, ilmu Bayan menamainya dengan nama Majas, sering disebut termasuk bab min ithlaaqil kul wairodatil juz , yang disebutkan adalah bentuk keseluruhan jari-jari, tapi yang dimaksud adalah sebagian ujung jari-jari. 3. Ma’ani = Ma’ani Mirip dengan ilmu Bayan, ilmu ini juga terasa lebih sukar memang semuanya sukar D. Pembahasan ilmu ini lebih ke penambahan ma’na yang timbul karena terjadi perubahan susunan kalimah bahasa arab. Jadi, ilmu ini tidak hanya membahas satu kalimah saja, tapi melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya pembuangan Mubtada dari struktur Mubatada Khobar dalam bahasa arab. Salah satu ma’na yang timbul adalah untuk Memuliakan objek yang ditunjuk oleh Mubtada tersebut. 4. Nahwu = Nahwu Ilmu ini mungkin yang lebih sering terdengar berpasangan dengan ilmu Shorof. Biasanya orang bilang ilmu Nahwu Shorof. Memang fenomena itu sudah dari dulu diungkapkan oleh ulama dahulu. Para ulama bahkan menyebutkan bahwa As Shorfu Ummul Ulum wa Nahwu Abuha. Ilmu Shorof adalah ibunya segala ilmu dan Ilmu Nahwu adalah bapaknya. Ilmu ini membahas gramatikal bahasa arab seperti bagaimana status jabatan kalimah kata dalam suatu kalam kalimat. Apakah dia menjadi Fa’il pelaku/subjek, Maf’ul objek, Na’at sifat, dan lainnya. Seperti halnya ilmu Ma’ani, ilmu ini otomatis membahas keterkaitan suatu kalimah dengan kalimah yang lainnya. Contohnya lafadh Ar Rohman pada bacaan basmalah adalah Na’at dari lafadh Jalalah Allah. 5. Qofiyatun = Qofiyah Fan ilmu ini mengatur bagaiman ujung satar awal harus sama dengan ujung satar tsani dalam suatu bait. Satar adalah potongan setengah bait dari suaatu nadhm. Misalnya kita punya suatu Nadhm Al Hamdulillahil ladzi qod waffaqo Lil ilmi khoiro kholqihi wa lit tuqo Dari bait di atas, satu satar adalah dari Al Hamdulillah sampai waffaqo. Yang saya contohkan adalah Bahar Rojaz dimana satar awal harus sama rimanya dengan satar Tsani. Tapi, di bahar yang lain ketentuan itu berbeda. 6. Syi’run = Syi’ir Ilmu ini membahas tentang bagaiman cara membuat suatu Syi’iran tentunya dalam bahasa arab. Penulis tidak bisa menctohkan karena belum pernah mengkaji ilmu ini. 7. Arudl = Arudl Nah, tadi kita sedikit menyinggung masalah bahar. Dalam ilmu inilah istilah Bahar itu dipelajari. Bagaimana suatu nadhm bisa disusun dengan menggunakan enam belas bahar yang sudah ada. Salah satu kitab yang penulis tahu adalah Mukhtashor Syafi. 8. Isytiqoqun = Isytiqoq Pencetakan suatu lafadh dari lafadh yang lain adalah objek kajian ilmu ini. Jika kita ingin tahu, sebenarnya lafadh Allah-pun dicetak dari lafadh Ilahun setelah melalui perubahan-perubahan. Demikian pula dengan lafadh-lafadh yang lain. 9. Khottun = Khot Tulisan bahasa arab pun ada tata cara penulisannya. Nah, tata cara penulisan tersebut menjadi kajian ilmu ini. Dalam bahasa arab ada standar tujuh jenis tulisan, yaitu Naskhi, Kufi, Tsulusi, Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, dan Farisi. Kitab yang penulis tahu, belum ada yang membahas ilmu ini. 10. Insyaau = Insya Ilmu ini membahas bagaiman membuat suatu kalam kalimat yang benar dalam bahasa arab. Biasanya latihan ilmu ini adalah dengan menyusun kalam dari runtutan kalimah yang sembarang. 11. Munadhoroh = Munadhoroh Kadang kala kita perlu ber-Munadhoroh argumen dengan pendapat orang lain. Nah, supaya argumen yang diungkapkan sesuai dengan aturan, dibuatlah ilmu ini. 12. Lughot = Lughot Ilmu ini membahas tentang mufrodat kosa kata dalam bahasa Arab. Semisal vocabulary dalam bahasa Inggris. Nah, itulah versi 12 fan ilmu yang penulis dapat. Jika ada yang pernah mendengar versi yang lain, silakan ditulis di sini. Tidak hanya ilmu itu yang harus kita pelajari, masih banyak dan tidak akan bisa hitung jumlah ilmu yang harus kita pelajari khususnya di bidang agama Islam. Semoga Allah meng-Istiqomah-kan kita agar tetap setia menjadi Thoolibul Ilmi. Karena keutamaan yang Allah tawarkan sangatlah besar bagi orang pencari ilmu. Wallahu a’lam
Pada Muqoddimah pembahasan Basmallah pernah disinggung tentang Fan Ilmu yang 12. Kali ini saya akan mencoba menguraikan tentang apa saja komponen dari 12 fan ilmu tersebut beserta penjelasannya. Semoga artikel ini setidaknya mampu memberi gambaran tentang 12 fan ilmu yang masyhur di dunia Pesantren Salaf ga tau sih kalo pesantren lain, untuk pesantren saya sangat masyhur meski yang dipelajari hanya sebagian kecil dar i 12 fan ilmu yang ada. 12 fan ilmu dirangkum dalam sebuah nadzom. Berikut adalah Nadzomnya صرف بيان معانى نحو قفية * شعر عروض إشتقاق خط إنشاء مناظرة والثانى عشرها لغة * تلك العلوم لها أداب الأسماء 1. Shorof Ilmu ini membahas tentang morfologi suatu kalimah kata dalam bahasa arab. Perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain untuk menghasilkan ma’na yang dimaksud. Contoh dari Fi’il kata kerja Madli ke bentuk Fi’il Mudlori’, Mashdar kata benda, Isim Fa’il pelaku, Isim Maf’ul kata benda objek, dan lainnya. Kitab Kuning yang biasanya digunakan untuk mempelajari ilmu ini adalah Al Amtsilatut tashrifiyyah, Kailany, Fathul Khobirul Latif, Nadhm Maqshud, Zanjani, dan lain-lain. 2. Bayan Lebih sukar dari ilmu Shorof, ilmu ini membahas tentang majas dan perumpaman dalam bahasa arab. Seperti halnya ilmu Shorof, ilmu ini juga hanya membahas satu kalimah kata tanpa melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya dalam penggunaan lafadh Ashobi’ahum dalam ayatYaj’aluun Ashobi’ahum fi adzaanihim dalam surat Al Baqoroh. Kata ashobi’ahum tersebut tidak dima’nai sebagai “jari-jari mereka”, tapi dima’nai sebagai “ujung jari-jari mereka”. Karena gak mungkin kan memasukkan jari ke telinga, yang mungkin memasukkan ujungnya saja. Dalam ayat tersebut, ilmu Bayan menamainya dengan nama Majas, sering disebut termasuk bab min ithlaaqil kul wairodatil juz , yang disebutkan adalah bentuk keseluruhan jari-jari, tapi yang dimaksud adalah sebagian ujung jari-jari. 3. Ma’ani Mirip dengan ilmu Bayan, ilmu ini juga terasa lebih sukar. Pembahasan ilmu ini lebih ke penambahan ma’na yang timbul karena terjadi perubahan susunan kalimah bahasa arab. Jadi, ilmu ini tidak hanya membahas satu kalimah saja, tapi melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya pembuangan Mubtada dari struktur Mubatada Khobar dalam bahasa arab. Salah satu ma’na yang timbul adalah untuk Memuliakan objek yang ditunjuk oleh Mubtada tersebut. 4. Nahwu Ilmu ini mungkin yang lebih sering terdengar berpasangan dengan ilmu Shorof. Biasanya orang bilang ilmu Nahwu Shorof. Memang fenomena itu sudah dari dulu diungkapkan oleh ulama dahulu. Para ulama bahkan menyebutkan bahwa As Shorfu Ummul Ulum wa Nahwu Abuha. Ilmu Shorof adalah ibunya segala ilmu dan Ilmu Nahwu adalah bapaknya. Ilmu ini membahas gramatikal bahasa arab seperti bagaimana status jabatan kalimah kata dalam suatu kalam kalimat. Apakah dia menjadi Fa’il pelaku/subjek, Maf’ul objek, Na’at sifat, dan lainnya. Seperti halnya ilmu Ma’ani, ilmu ini otomatis membahas keterkaitan suatu kalimah dengan kalimah yang lainnya. Contohnya lafadh Ar Rohman pada bacaan basmalah adalah Na’at dari lafadh Jalalah Allah. Kitab yang biasa digunakan untuk mengkaji ilmu Nahwu adalah Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah, Kifaayatul Ashab, dan lain-lain. 5. Qofiyah Fan ilmu ini mengatur bagaiman ujung satar awal harus sama dengan ujung satar tsani dalam suatu bait. Satar adalah potongan setengah bait dari suaatu nadhm. Misalnya kita punya suatu Nadhm Al Hamdulillahil ladzi qod waffaqo Lil ilmi khoiro kholqihi wa lit tuqo Dari bait di atas, satu satar adalah dari Al Hamdulillah sampai waffaqo. Yang saya contohkan adalah Bahar Rojaz dimana satar awal harus sama rimanya dengan satar Tsani. Tapi, di bahar yang lain ketentuan itu berbeda. 6. Syi’ir Ilmu ini membahas tentang bagaimana cara membuat suatu Syi’iran tentunya dalam bahasa arab. 7. Arudl Nah, tadi kita sedikit menyinggung masalah bahar. Dalam ilmu inilah istilah Bahar itu dipelajari. Bagaimana suatu nadhm bisa disusun dengan menggunakan enam belas bahar yang sudah ada. Salah satu kitab yang saya tahu adalah Mukhtashor Syafi. 8. Isytiqoq Pencetakan suatu lafadh dari lafadh yang lain adalah objek kajian ilmu ini. Jika kita ingin tahu, sebenarnya lafadh Allah-pun dicetak dari lafadh Ilahun setelah melalui perubahan-perubahan. Demikian pula dengan lafadh-lafadh yang lain. Dalam pembahasan di bab-bab artikel saya kedepan nanti, ilmu ini juga akan di dapatkan dalam praktiknya. 9. Khot Tulisan bahasa arab pun ada tata cara penulisannya. Nah, tata cara penulisan tersebut menjadi kajian ilmu ini. Dalam bahasa arab ada standar tujuh jenis tulisan, yaitu Naskhi, Kufi, Tsulusi, Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, dan Farisi. 10. Insya’ Ilmu ini membahas bagaiman membuat suatu kalam kalimat yang benar dalam bahasa arab. Biasanya latihan ilmu ini adalah dengan menyusun kalam dari runtutan kalimah yang sembarang. 11. Munadzoroh Kadang kala kita perlu ber-Munadhoroh argumen dengan pendapat orang lain. Nah, supaya argumen yang diungkapkan sesuai dengan aturan, dibuatlah ilmu ini. 12. Lughoh Ilmu ini membahas tentang mufrodat kosa kata dalam bahasa Arab. Semisal vocabulary dalam bahasa Inggris. Itulah sedikit penjelasan mengenai 12 fan ilmu yang saya tahu. Jika ada yang pernah mendengar versi yang lain, silakan ditulis di sini dengan memberi komentar. Sejatinya, tidak hanya ilmu itu saja yang harus kita pelajari, masih banyak dan tidak akan bisa hitung jumlah ilmu yang harus kita pelajari, baik itu ilmu agama maupun sains. Semoga Allah meng-Istiqomah-kan kita agar tetap setia menjadi Thoolibul Ilmi. Karena keutamaan yang Allah tawarkan sangatlah besar bagi orang pencari ilmu. وكن مستفيدا كل يوم زيادة * من العلم واسبح في بحور الفوائد